Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /web/bdkbanjarmasin.kemenag.go.id/index.php on line 17

Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /web/bdkbanjarmasin.kemenag.go.id/inc/artikel.php on line 5
Kementerian Agama RI | Kantor Balai Dilat Keagamaan Banjarmasin
Kamis, 8 Desember 2016
   HOME   PRODUK PERUNDANGAN   PROFIL      KONTAK KAMI    BUKU TAMU    GALERI   LINK TERKAIT    SITEMAP   






Tantangan Penyusunan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Bagi Guru

Tantangan Penyusunan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Bagi Guru

Oleh Anang Nazaruddin

 

                Tugas guru sangatlah mulia, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa, maka profesionalitas guru merupakan syarat mutlak untuk dapat mempersiapkan generasi muda dalam menghadapi tantangan jaman yang kompetitif. Guru di masa kini tidak hanya sekedar mengajar dan mendidik siswa agar menjadi pinter, namun guru dituntut mampu menjadi agen perubahan yang mampu menghantar siswa menstransfer nilai-nilai modern yang bermanfaat bagi kemajuan masyarakat. Penelitian tindakan kelas merupakan salah satu upaya peningkatan profesi guru. Sehingga guru menjadi jabatan yang memang diakui oleh masyarakat sebagai orang yang selalu mau meningkatkan kompetensi jabatannya

Kata kunci : Penelitian Tindakan Kelas (PTK), Guru.

 

I.        Pendahuluan.

          Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen merupakan bukti pengakuan terhadap keprofesian guru dan dosen. Secara khusus,  pada pasal 14 dan 15 Undang-undang di atas dinyatakan bahwa guru berhak memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum dan jaminan kesejahteraan  sosial,  meliputi  gaji  pokok,  tunjangan yang melekat pada gaji, serta penghasilan lain berupa tunjangan profesi, tunjangan fungsional, tunjangan khusus, dan maslahat tambahan yang terkait dengan tugasnya sebagai guru yang ditetapkan dengan prinsip penghargaan atas dasar prestasi.

          Pengakuan atas profesi guru di atas memiliki konsekuensi logis yang penting bagi guru. Salah satu konsekuensi logis itu adalah bahwa guru dituntut untuk selalu memperbarui atau mengembangkan dirinya. Secara lebih luas, guru dituntut untuk selalu mengembangkan keprofesiannya secara terus menerus, misalnya melalui pendidikan dan pelatihan, pengembangan bahan ajar dan alat peraga, kegiatan penelitian, penyusunan karya tulis ilmiah (KTI), dan sebagainya.

          Kegiatan ‘meneliti’ dan ‘menulis’ (baca: menulis karya ilmiah) umumnya merupakan suatu hal yang tidak mudah untuk dilakukan oleh guru. Kalaupun pernah, kegiatan meneliti dan menulis itu biasanya dilakukan guru ketika menyelesaikan tugas akhir perkuliahan. Ironisnya lagi, terkadang tugas akhir perkuliahan itu menjadi satu-satunya karya ilmiah atau karya tulis ilmiah yang pernah dihasilkan oleh guru itu. Pada sisi lain tuntutan dan tantangan yang dihadapi guru dalam melaksanakan tugas profesinya makin beragam dan berat. Seperti layaknya  seorang dokter, bahkan dokter spesialis, guru pun dituntut untuk mampu memecahkan berbagai permasalahan yang dihadapinya dalam kaitan dengan pengelolaan pendidikan dan pembelajaran di sekolah. Sementara itu, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) demikian pesatnya dewasa ini. Guru ditantang untuk selalu dapat mengikuti perkembangan iptek itu jika tidak ingin ‘tergilas oleh waktu’. Tuntutan atau tantangan profesi dan perkembangan iptek di atas harus dapat dijawab guru melalui tindakan nyata yang berawal dari pribadi guru itu sendiri. Oleh karena itu, pengembangan keprofesian guru menjadi sebuah keniscayaan.

          Salah satu upaya yang cukup menjanjikan bagi pengembangan keprofesian guru itu adalah melakukan kegiatan penelitian tindakan kelas (PTK). Melalui PTK, guru dapat melakukan sekaligus minimal tiga hal, yaitu meneliti, menulis, dan mengembangkan keprofesian secara berkelanjutan. Muslich (2009) mengatakan bahwa PTK menawarkan peluang strategi pengembangan kinerja melalui pemecahan masalah-masalah pembelajaran (teaching-learning probleems solving), sebab pendekatan dalam PTK menempatkan guru sebagai peneliti sekaligus sebagai agen perubahan. Melakukan PTK bahkan sangat disarankan beberapa pakar karena nilai manfaat dari kegiatan PTK itu sangat besar, baik bagi guru sendiri maupun bagi pendidikan dan pembelajaran, siswa, dan sekolah. Wiriaatmadja (2008) mengatakan bahwa jawaban paling utama terhadap pertanyaan mengapa guru harus melakukan PTK ialah untuk mengubah citra dan meningkatkan keterampilan profesional guru. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa PTK merupakan sebuah pilihan solutif bagi guru untuk membantu memecahkan berbagai persoalan pembelajaran dan/atau pendidikan yang dikelolanya di samping untuk membantu mengembangkan keprofesian guru secara berkelanjutan.

          Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru antara lain mengatur tentang  kompetensi guru. Pada kompetensi pedagogik terdapat kompetensi inti guru. Salah satu kompetensi inti guru itu adalah melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran. Kompetensi inti guru ini dijabarkan menjadi kompetensi guru,  salah satunya adalah melakukan penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Hal ini berarti bahwa melakukan PTK merupakan bagian penting tuntutan standar kompetensi yang harus dicapai guru.

 

II.        Permasalahan

          Dari beberapa kali kesempatan ketika mengamati peserta diklat, dimana para peserta dituntut untuk meningkatkan kompetensinya dalam melaksanakan penelitian tindakan kelas, ternyta mereka menghadapi kesulitan yang bervariasi. Di antaranya :

1.        minat membaca teori pendidikan maupun  panduan penerapan standar belum sesuai dengan tingkat kebutuhan pengembangan karya tulis ilmiah.

2.        keterampilan menerapkan kebiasaan berpikir ilmiah dalam melaksanakan perbaikan mutu pekerjaan belum berkembang efektif.

3.        adanya kesenjangan kebutuhan untuk mewujudkan karya ilmiah dengan kecapaian berpikir ilmiah. Yang peserta perlukan adalah melaksanakan dan menghasilkan karya, padahal kompetensi yang peserta miliki belum sesuai dengan yang diharapkan  sehingga banyak peserta yang enggan berjuang karena melihat pekerjaan ini sulit.

4.    terlebih diwilayah kerja BDK Banjarmasin, masih banyak daerah yang cukup terpencil sehingga mereka terhambat dalam mengakses dunia luar, sehingga belum bisa mengikuti perkembangan terbaru dalam dunia pendidikan.

 

III.        Pembahasan

1.    Pengertian

                Menurut Carr dan Kemmis seperti yang dikutip oleh Siswojo Hardjodipuro, dikatakan bahwa yang dimaksud dengan istilah PTK adalah suatu bentuk refleksi diri yang dilakukan oleh para partisipan (guru, siswa atau kepala sekolah) dalam situasi-situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki rasionalitas dan kebenaran (a) praktik-praktik sosial atau pendidikan yang dilakukan dilakukan sendiri, (b) pengertian mengenai praktik-praktik ini, dan (c) situasi-situasi ( dan lembaga-lembaga ) tempat praktik-praktik tersebut dilaksanakan (Harjodipuro, 1997).

Lebih lanjut, dijelaskan oleh Harjodipuro bahwa PTK adalah suatu pendekatan untuk memperbaiki pendidikan melalui perubahan, dengan mendorong para guru untuk memikirkan praktik mengajarnya sendiri, agar kritis terhadap praktik tersebut dan agar mau utuk mengubahnya. PTK bukan sekedar mengajar, PTK mempunyai makna sadar dan kritis terhadap mengajar, dan menggunakan kesadaran kritis terhadap dirinya sendiri untuk bersiap terhadap proses perubahan dan perbaikan proses pembelajaran. PTK mendorong guru untuk berani bertindak dan berpikir kritis dalam mengembangkan teori dan rasional bagi mereka sendiri, dan bertanggung jawab mengenai pelaksanaan tugasnya secara profesional.

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, jelaslah bahwa dilakukannya PTK adalah dalam rangka guru bersedia untuk mengintropeksi, bercermin, merefleksi atau mengevalusi dirinya sendiri sehingga kemampuannya sebagai seorang guru/pengajar diharapkan cukup professional untuk selanjutnya, diharapkan dari peningkatan kemampuan diri tersebut dapat berpengaruh terhadap peningkatan kualitas anak didiknya, baik dalam aspek penalaran; keterampilan, pengetahuan hubungan sosial maupun aspek-aspek lain yang bermanfaat bagi anak didik untuk menjadi dewasa.

Dengan dilaksanakannya PTK, berarti guru juga berkedudukan sebagai peneliti, yang senantiasa bersedia meningkatkan kualitas kemampuan mengajarnya. Upaya peningkatan kualitas tersebut diharapkan dilakukan secara sistematis, realities, dan rasional, yang disertai dengan meneliti semua “ aksinya di depan kelas sehingga gurulah yang tahu persis kekurangan-kekurangan dan kelebihannya. Apabila di dalam pelaksanaan “aksi” nya masih terdapat kekurangan, dia akan bersedia mengadakan perubahan sehingga di dalam kelas yang menjadi tanggungjawabnya tidak terjadi permasahan.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan PTK ialah suatu penelitian yang dilakukan secara sistematis reflektif terhadap berbagai tindakan yang dilakukan oleh guru yang sekaligus sebagai peneliti, sejak disusunnya suatu perencanaan sampai penilaian terhadap tindakan nyata di dalam kelas yang berupa kegiatan belajar-mengajar, untuk memperbaiki kondisi pembelajaran yang dilakukan. Sementara itu, dilaksanakannya PTK di antaranya untuk meningkatkan kualitas pendidikan atau pangajaran yang diselenggarakan oleh guru/pengajar-peneliti itu sendiri, yang dampaknya diharapkan tidak ada lagi permasalahan yang mengganjal di kelas.

2.    Mengapa Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Penting

Ada beberapa alasan mengapa PTK merupakan suatu kebutuhan bagi guru untuk meningkatkan profesional seorang guru :

a.        PTK sangat kondusif untuk membuat guru menjadi peka tanggap terhadap dinamika pembelajaran di kelasnya. Dia menjadi reflektif dan kritis terhadap lakukan.apa yang dia dan muridnya

b.        PTK dapat meningkatkan kinerja guru sehingga menjadi profesional. Guru tidak lagi sebagai seorang praktis, yang sudah merasa puas terhadap apa yang dikerjakan selama bertahun-tahun tanpa ada upaya perbaikan dan inovasi, namun juga sebagai peneniliti di bidangnya.

c.        Dengan melaksanakan tahapan-tahapan dalam PTK, guru mampu memperbaiki proses pembelajaran melalui suatu kajian yang dalam terhadap apa yang terhadap apa yang terjadi di kelasnya. Tindakan yang dilakukan guru semata-mata didasarkan pada masalah aktual dan faktual yang berkembang di kelasnya.

d.        Pelaksanaan PTK tidak menggangu tugas pokok seorang guru karena dia tidak perlu meninggalkan kelasnya. PTK merupakan suatu kegiatan penelitian yang terintegrasi dengan pelaksanaan proses pembelajaran.

e.        Dengan melaksanakan PTK guru menjadi kreatif karena selalu dituntut untuk melakukan upaya-upaya inovasi sebagai implementasi dan adaptasi berbagai teori dan teknik pembelajaran serta bahan ajar yang dipakainya.

f.         Penerapan PTK dalam pendidikan dan pembelajaran memiliki tujuan untuk memperbaiki dan atau meningkatkan kualitas praktek pembelajaran secara berkesinambungan sehingga meningkatan mutu hasil instruksional; mengembangkan keterampilan guru; meningkatkan relevansi; meningkatkan efisiensi pengelolaan instruksional serta menumbuhkan budaya meneliti pada komunitas guru.

3.        Prinsip Penyusunan Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

                Beberapa prinsip PTK adalah sebagai berikut :

a.        Pertama, tindakan dan pengamatan dalam proses penelitian yang dilakukan tidak boleh mengganggu atau menghambat kegiatan utama, misalnya bagi guru tidak boleh sampai mengorbankan kegiatan pembelajaran.

b.        Kedua, masalah penelitian yang dikaji merupakan masalah yang cukup merisaukan dan berpijak dari tanggung jawab profesional guru.

c.        Ketiga, metode pengumpulan data yang digunakan tidak menuntut waktu yang lama sehingga berpeluang menggangu proses pembelajaran.

d.        Keempat, metodologi yang digunakan harus terencana secara cermat sehingga tindakan dapat dirumuskan dalam suatu hipotesis tindakan yang dapat diuji di lapangan.

e.        Kelima, permasalahan atau topik yang dipilih harus benar–benar nyata, menarik, mampu ditangani, dan berada dalam jangkauan kewenangan peneliti untuk melakukan perubahan.

f.         Keenam, peneliti harus tetap memperhatikan etika dan tata krama penelitian serta rambu–rambu pelaksanaan yang berlaku umum.

g.        Ketujuh, kegiatan PTK pada dasarnya merupakan kegiatan yang berkelanjutan karena tuntutan terhadap peningkatan dan pengembangan akan menjadi tantangan sepanjang waktu.

h.        Kedelapan, meskipun kelas atau mata pelajaran merupakan tanggung jawab guru, namun tinjauan terhadap PTK tidak terbatas dalam konteks kelas dan atau mata pelajaran tertentu melainkan dalam perspektif misi sekolah.

                Pertanyaan awal yang muncul adalah bagaimana memulai PTK? Pertanyaan seperti ini seringkali muncul dalam benak guru, terutama pada guru yang belum pernah melakukan PTK. Kita dapat memulai PTK dari permasalahan yang kita temui atau hadapi dalam mengelola pembelajaran. Beberapa permasalahan itu di antaranya adalah sebagai berikut :

a.        Pembelajaran siswa di sekolah, seperti misalnya masalah pembelajaran di kelas, kesalahan-kesalahan dalam pembelajaran, miskonsepsi, misstrategi, dan sebagainya. Desain dan strategi pembelajaran di kelas, misalnya masalah pengelolaan dan prosedur pembelajaran, implementasi dan inovasi penggunaan model pembelajaran, interaksi di dalam kelas, dan sebagainya.

b.        Penanaman dan pengembangan sikap serta nilai-nilai, misalnya penanaman budaya dan karakter bangsa, pengembangan pola berpikir ilmiah dalam diri siswa, dan sebagainya.

c.        Sumber belajar, misalnya penggunaan perpustakaan, media pembelajaran, alat peraga, dan sumber belajar alternatif lainnya.

d.        Penilaian proses dan hasil belajar, misalnya masalah penilaian awal, proses, dan hasil belajar di kelas, pengembangan instrumen penilaian berbasis kompetensi, penggunaan alat atau metode penilaian tertentu, dan sebagainya.

e.        Implementasi kurikulum, misalnya implementasi kurikulum tingkat satuan pendidikan, urutan penyajian materi pembelajaran, interaksi antara guru dan siswa, interaksi antarsiswa, interaksi siswa dengan sumber belajar.

                Untuk menunjang pelaksanaan PTK, guru perlu menyusun usulan atau proposal PTK. Berikut ini contoh sistematika usulan atau proposal PTK sebagai berikut.

USULAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS (CLASSROOM ACTION RESEARCH)

A.       Judul Penelitian

B.        Bidang Kajian

C.        Pendahuluan

D.       Perumusan dan Pemecahan Masalah

1.    Perumusan Masalah

2.    Pemecahan Masalah

3.    Tujuan Penelitian

4.    Manfaat Penelitian

E.        Kajian Pustaka

F.        Metode Penelitian

G.       Jadwal Penelitian

Lampiran-lampiran:

1.    Daftar  Pustaka

2.    Lain-lain yang dianggap perlu (misalnya: rancangan materi, model yang akan digunakan, anggaran penelitian, dan instrumen penelitian)

 

Laporan pelaksanaan kegiatan PTK merupakan suatu karya tulis ilmiah (KTI) yang dapat ditulis guru sebagai peneliti dalam PTK. KTI sebagai laporan PTK ini dapat disusun dengan bentuk dan sistematika tertentu. Misalnya, laporan PTK ini dapat dibuat dalam bentuk buku laporan penelitian, artikel untuk dimuat pada jurnal ilmiah, atau makalah untuk disajikan pada pertemuan ilmiah. Berikut ini contoh sistematika laporan PTK.

LAPORANPENELITIAN TINDAKAN KELAS (CLASSROOM ACTION RESEARCH)

BAGIAN AWAL

1.        Halaman Judul

2.        Halaman Pengesahan

3.        Abstrak

4.        Kata Pengantar

5.        Daftar Isi dan Lampiran

BAGIAN ISI

BAB I PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang Masalah

B.        Rumusan Masalah

C.        Tujuan Penelitian

D.       Manfaat Penelitian

BAB II KAJIAN TEORI DAN PUSTAKA

BAB III PROSEDUR PENELITIAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN (berisi instrumen penelitian, data penelitian, izin penelitian, serta bukti lain yang dianggap perlu)

 

4.        Tantangan Penerapan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB)

                Selama ini kenaikan pangkat atau jabatan guru diatur melalui Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 84 Tahun 1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Saat ini telah dikeluarkan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Dalam keputusan atau peraturan menteri di atas a.l. diatur mengenai pengumpulan angka kredit guru dari berbagai unsur, salah satunya unsur pengembangan profesi atau pengembangan keprofesian guru.

                Tantangan ‘terberat’ yang selama ini menghalangi kelancaran kenaikan pangkat atau jabatan guru adalah keharusan guru mengumpulkan angka kredit kredit dari unsur pengembangan profesi guru. Pada Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 84 Tahun 1993 a.l. dicantumkan bahwa untuk dapat naik pangkat ke golongan/ruang IV/b seorang guru dengan golongan/ruang IV/a harus mengumpulkan 12 (dua belas) angka kredit dari unsur pengembangan profesi. Kenyataannya, banyak guru ‘terhenti’ pangkat/jabatannya pada golongan/ruang IV/a. Suatu hal yang amat sulit bagi banyak guru untuk dapat ‘menembus tembok IV/b’ itu. Adnyana (2010) merekomendasikan perlunya ‘membumikan PTK di kalangan guru’ sehingga hal itu memiliki manfaat ganda, yaitu meningkatkan kompetensi profesional guru pada satu sisi dan merupakan langkah strategis untuk menembus ‘tembok IV/b’ yang saat ini teridentifikasi tebal dan tinggi pada sisi lain.

                Tantangan di atas tampaknya akan makin berat bagi guru. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 di atas menggariskan bahwa guru dengan golongan/ruang III/b yang akan naik jabatan/pangkatnya menjadi guru dengan golongan/ruang III/c dipersyaratkan untuk mengumpulkan paling sedikit 4 (empat) angka kredit dari sub-unsur publikasi ilmiah dan/atau karya inovatif (baca: pengembangan keprofesian berkelanjutan). Artinya, sejak awal guru sudah ditantang untuk mengembangkan keprofesiannya secara berkelanjutan. Harapannya, kegiatan publikasi ilmiah dan/atau karya inovatif tidak akan lagi menjadi ‘momok’ yang baru muncul di golongan/ruang IV/b, namun  menjadi ‘sahabat’ yang sudah dikenal sejak dini.

5.        Strategi Praktis Penyusunan Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

                Adapun cara sederhana dan praktis yang dapat dijadikan pembanding untuk melaksanakan PTK adalah:

a.        pertama, guru mapel menginventarisir persoalan yang dihadapi di kelasnya. Adapun contoh persoalan yang dihadapi guru, diantaranya, mulai dari: a) persoalan KBM, tentang perlengkapan media; minat; dan sikap; b) persoalan Kompetensi Dasar (KD); alokasi waktu yang tersedia, dan lain-lain; c) persoalan sarana dan prasarana sekolah; d) persoalan metode pembelajaran, maksudnya metode apakah yang harus dipakai pada pokok bahasan tertentu. Misalnya: membuat patung; benda pakai; melukis kreasi; sejarah seni rupa dan lain-lain, tentu membutuhkan metode yang berbeda-beda.

b.        Kedua, setelah guru menemukan persoalan yang ada, langkah berikut adalah menentukan masalah yang harus segera dicarikan alternatif pemecahannya. Masalah yang hendak dipecahkan adalah benar-benar terjadi di kelasnya.

c.        Ketiga, setelah masalah ditentukan, kemudian guru berfikir metode yang harus dipakai untuk mengatasi persoalannya. Misal, masalah materi gambar bentuk pada kelas VII. KD tentang menggambar bentuk, berbentuk elips. Langkah yang dipikirkan guru adalah bagaimana caranya agar siswa mudah dan cepat dapat menggambar benda berbentuk elips tersebut, dalam waktu sesingkat-singkatnya. Maka, metode apa yang harus dipilih. Contoh, metode penggabungan demonstrasi dan metode melihat benda (objek) sebenarnya.

d.        Keempat, setelah guru menentukan metode, langkah selanjutnya menjelaskan pengertian metode yang dipilih, diawali dari menjelaskan metode tersebut, menurut pendapat para pakar, yang bersumber dari internet dan terutama dari buku penelitian. Dengan catatan kutipan tersebut harus dituliskan secara lengkap dari sumbernya, dan jelaskan plus minusnya dari metode yang dipilih. Selanjutnya guru merangkum/ berpendapat dikaitkan dengan kondisi kelas dan materi ajarnya, yang menggambarkan kondisi yang diharapkan. Dari uraian materi di atas, dapat disimpulkan guru telah melakukan pembuatan proposal, yang di dalamnya mencakup gambaran dari Bab I, II dan III.

e.        Kelima, sampailah pada praktik melakukan PTK di kelasnya. Proposal itulah yang dapat dijadikan pedoman melakukan PTK dalam praktik sebenarnya. Pelaksanaan praktik PTK diperlukan pendamping yang disebut kolaborator. Kolaborator yang dipilih adalah guru serumpun yang lebih senior (dalam arti senior ilmunya) atau menggunakan guru lain yang dipandang lebih memahami proses KBM, dan atau secara otomatis menggunakan kepala sekolahnya. Kepala Sekolah berfungsi sebagai pemberi ijin, penilai Rencana Pembelajaran (RP), sekaligus sebagai nara sumber untuk meningkatkan kualitas pembelajarannya. Dalam praktik sebenarnya, guru akan mengenal istilah siklus. Proses penelitian diawali dari kondisi pra siklus, yaitu merencanakan, melaksanakan, pengamatan dan refleksi. Pada pra siklus guru memaparkan kondisi keadaan kelas, yang di dalamnya berisi nilai di kelas tersebut rata-rata terendah. Selanjutnya sampailah pada siklus satu, dan dua (paling sedikit dua siklus). Setelah ditemukan kepuasan, dalam arti nilai yang diperoleh telah melampaui Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) mencapai lebih dari atau samadengan 85 persen, berarti penelitian telah berakhir, selanjutnya ditindak lanjuti dengan pelaporan.

 

IV.        Kesimpulan

          Berikut ini dikemukakan beberapa gagasan mengenai kegiatan berkaitan dengan upaya menjadikan PTK sebagai solusi bagi guru untuk meneliti, menulis, dan sekaligus mengembangkan keprofesian secara berkelanjutan, yaitu :

1.    belajar PTK;  guru dapat menggunakan multisumber belajar yang tersedia banyak dan beragam dewasa ini,

2.        mengimplementasikan PTK; guru dapat bekerja secara mandiri atau secara kolaboratif. PTK mandiri dapat saja dilakukan guru jika memang guru itu memiliki kemampuan yang cukup untuk melakukan kegiatan PTK itu secara sendiri. Hal ini sebenarnya agar sulit mengingat tugas utama guru adalah mengelola pembelajaran sedangkan dalam kegiatan PTK ada ‘tugas-tugas lain’ yang perlu dilakukan secara cermat, objektif, dan sungguh-sungguh. PTK kolaboratif merupakan sebuah pilihan yang diharapkan dapat lebih membantu guru untuk melakukan PTK. Guru dapat berkolaborasi dengan guru lain, kepala sekolah, pengawas sekolah, dosen, atau widyaiswara. PTK kolaboratif dapat dilaksanakan dengan lebih optimal karena tugas-tugas dalam PTK dapat lebih didistribusikan kepada anggota peneliti atau kolaborator secara proporsional. Di samping itu, para guru juga dapat ‘saling belajar’ dalam melakukan PTK. Pembagian tugas yang jelas sejak awal PTK merupakan suatu hal yang perlu dilakukan.

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Direktorat Tenaga Kependidikan. 2010. Membimbing Guru dalam Penelitian Tindakan Kelas. Materi Pelatihan Penguatan Kemampuan Pengawas Sekolah. Jakarta: Direktorat Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan Nasional.

Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 84 Tahun 1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya.

Kunandar. 2008. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas sebagai Pengembangan Profesi Guru. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Muslich, Masnur. 2009. Melaksanakan PTK Itu Mudah (Classroom Action Research) Pedoman Praktis bagi Guru Profesional. Ed. 1, Cet. 1. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru.

Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya.

Wiriaatmadja, Rochiati. 2008. Metode Penelitian Tindakan Kelas untuk Meningkatkan Kinerja Guru dan Dosen. Cet. Ke-7. Bandung: PT Remaja Rosdaka.

 

 

 

 

 

 

 

 

©2010 Kementerian Agama Republik Indonesia Pusat Informasi Keagamaan dan Kehumasan
Halaman ini diproses dalam waktu 0.005408 detik